Buat temen2 yang punya tulisan atau artikel yang ingin di muat...kirim saja ke email (david_rudra@yahoo.com) atau hub id bro kodok....
Malam semakin larut, namun mata tak kunjung surut, meski coba kupejamkan namun rasa ngantuk itu tak kunjung tiba. Dengan menghisap rokok Marlborro, kupandangi sebuah kaca yang berada di kamar ini, benar saat ini aku boring. Melihat Notebook, sudah males, rasanya lelah sekali, dan tak ingin bicara sama siapapun, termasuk kebiasaanku chating. Tiba-tiba kulihat secarik teks Pancasila yang tertulis dalam sebuah buku terbitan tahun 1980-an koleksi yang sempat kubeli saat mengunjungi Kota Malang awal tahun 2007 lalu. Yah..buku itu lusut, sebab belinya juga di pasar loakan. Lusut, tapi antik, seperti mataku terlihat di depan cermin, dan Marlborro yang hanya tinggal beberapa batang lagi.
Sontak, teks Pancasila itu kuhayati. Lima bagian yang di keramatkan, biasa orang menyebutnya dengan sebutan 'lima sila' itu seakan menggugahku untuk memikirkannya. Seperti nun di luar sana yang tak kunjung terlihat, begitu juga fikiranku, tak bisa beranjak dari kelesuhan ini. Kata demi kata kulihat, tiba-tiba mataku tertuju pada kata Maha Esa. Sila pertama sekaligus merupakan jati diri bangsa Indonesia yang berketuhanan. kata itu sudah lama kupahami sebagai Tuhan Yang satu, atau Yang Maha-satu. Esa berasal dari bahasa sansekerta yang berarti satu. Namun saya melihat, imbuhan Maha sebagai penguat kata 'Esa' seprtinya agak menggelitik.
Sesuai dengan ejaan bahasa Indonesia yang telah disempurnakan, saya melihat kata Maha senantiasa di gabung jika mendapat imbuhan kata sifat. Sebagai contoh, yang Mahakuasa, Mahabesar. Namun kenapa di dalam teks Pancasila kata Maha dan Esa di pisah? Sebenarnya mungkin dalam bayanganku, cukup banyak orang yang paham soal ini. Mereka, para ahli linguistik, para pakar bahasa tentu sudah paham akan kesalahan penulisan ini, tapi kenapa tidak ada koreksi? Ah..saya ingat, satu aturan di negeriku sana, bahwa mereka yang menentang pancasila akan dicap subversi, apalagi melakukan perubahan, tentu alasan itu yang membuat semua orang enggan melakukan koreksi, dan akhirnya membenarkan apa yang sudah dibuat. Subversi!! ah,,jadi takut.
Aku temukan jawabannya!! teriakku didalam hati. Kutinggalkan buku yang usang itu, kuambil remote bermaksud melihat siaran televisi. Kebetulan saya terpaku melihat berita olah raga yang disiarkan salah satu stasiun televisi Malaysia. Disana menyiarkan profil kegagahan pebulutangkis Indonesia dalam menjuarai beberapa turnament internasional.
Lagi-lagi, pikiran saya tertuju pada kata 'Bulu Tangkis' -kenapa masyarakat Indonesia maupun Malaysia menyebut olah raga yang erat dengan permainan Kok (terbuat dari bulu) itu dengan bulu tangkis? Sebutan ini, sedikit menggelitik. Biasanya dalam bahasa Indonesia, untuk menyebut sebuah cabang olah raga, selalu mendahulukan kata kerja, sebagai contoh Sepakbola (Sepak+bola). Sepak adalah kata kerja sedangkan bola untuk mempertegas olah raga yang dimaksud. Begitu juga contoh lain, misalnya, Lempar Lembing, Panjat Tebing, Balap Motor. Tapi kenapa Bulu tangkis, tidak Tangkis Bulu?
Kembali ku hisap Marlboro terakhir di kotak rokok ini. Barangkali kutemukan jawabannya, seraya sang penyiar menceritakan tentang sosok juara Bulu Tangkis taufik Hidayat. Yah..jawaban ini kutemukan!! Barangkalai penyebutan Bulu Tangki dengan meng-akhirkan kata kerja untuk sebutan itu adalah demi sebuah kesopanan. Seperti halnya adat ketimuran Indonesia, selalu menjunjung tinggi nilai kesopanan, termasuk dalam tata bahasa. Mungkin jika kata itu dibenarkan mengikuti ejaan yang kaku, yakni Tangkis Bulu bukan Bulu Tangkis, maka kedengarannya kata itu jadi lucu, ketika menyebut taufik Hidayat.
Jelas tidak sopan jika kita menyebut ''Taufik Hidayat Juara Tangkis Bulu Laki-laki''- ini tidak memenuhi kaidah kesopanan, dan terkesan lucu. Seorang juara tangkis bulu laki-laki. hahahah,,,,,haha,,,,,,sedikit kutertawa, menurutku hal yang kaku akan tereksan lucu, meski mungkin benar. Maka yang sopan, ''taufik merupakan juara Bulu Tangkis laki-laki'' - HUh..sederhana, lucu, dan menggelitik memahami bahasa kita Indonesia, aneh dan mungkin anda juga temukan jawaban yang lain.
Yah...sudahlah, mataku juga sudah mulai 5 watt, rokok juga sudah tak berasap lagi. Tak terasa asbak di depanku penuh. Mending kusuruh istirahat mesin kepalaku ini!! ( Magid, kenangan Johor 14 Mei 2007, 03.00 WIB
,
Selama ini saya sering menjumpai beragam moto hidup yang di pegang masyarakat kita. Barangkali sebuah lagu ciptaan Ian Antono ''Panggung Sandiwara''-dapat mewakili keadaan salah satu diantaranya.
''Dunia ini panggung sandiwara, ceritanya mudah berubah!!''
Ada yang menyebut, dunia ini hanya sebuah panggung teater, dimana pemain teaternya adalah kita, saya, anda atau mereka, ya,,,kita semua. Barangkali jika saya tidak salah, kata-kata yang dipakai Ian Antono dalam lagu itu, mencomot dari pepatah Jerman kuno, yakni 'Ein Leben ist Ein Spiel' yang artinya hidup itu adalah suatu sandiwara. Pepatah ini memiliki makna yang majis, dalam, dan sedikit menandakan kepasrahan terhadapNya. Pepatah itu sendiri pernah dipakai Sudisman, ketua II CC PKI dalam pidato pembelaannya saat digelar Mahkama Militer Luar Biasa (Mahmilub) pada periode 1969, saat pasrah menerima vonis mati.
Tapi, coba kita fikirkan, sebenarnya hidup ini apa? Saya sendiri tidak sependapat dengan pepatah, Hidup adalah sandiwara, seperti halnya pepatah Jerman kuno itu. Sebab, jika kita memakai pepatah itu sebagai dasar untuk menjalani kehidupan ini, maka akan terasa sangat enteng, ringan dan terkesan asal-asal saja. Sebab,semua hanya sandiwara, padahal jika kita memang benar-benar menjalani hidup dan memiliki prinsip hidup, jelas semua bisa serba serius. Tidak, serba asal, menjadi ini boleh, menjadi itu baik dan semua dikerjakan dengan topeng sandiwara. Tidak...saya tidak mau bersandiwara.
Sepertinya, pepatah itu harus diubah menjadi, ''Ein Leben ist nicht ein spiel aber en leben ist Streit'' yang artinya hidup bukannya sandiwara, tapi hidup adalah suatu perjuangan. Ya..hidup memang perjuangan. Kita hidup untuk berjuang, dan kita berjuang agar bisa hidup. Sebab, kita hidup bukan sekedar hidup, kita hidup untuk mempertahankan kehidupan itu sendiri. Mungkin benar kata buyutku yang asli Jawa 'Ojo Dumeh le mandengi urip '(jangan remeh dalam memandang hidup) dan kehidupan.
Kadang menghadapi perjuangan itu sulit, lihatlah, dibawah jembatan itu, hidup mereka yang berjuang, tapi belum mendapatkan hasil yang mereka inginkan. Kemiskinan, kekuarangan tentu saja mereka rasakan. Dilain tempat, mereka yang memperoleh kemenangan bisa mendapatkan apa saja, mobil mewah, harta berlimpah. Tapi satu ukuran, yakni kebahagian, belum bisa diukur diantara keduanya. Sebab, hukum 'Hij is Rijk Van Huis Uit' (Ia Kaya sejak semula) masih ada. Mereka bisa jadi kekayaan itu bukan hasil perjuangan, tapi dari warisan dsb. Karna itu, lebih baik dan lebih bijaksana jika kita mengukur hasil perjuang hidup itu dari seberapa jauh kebahagiaan mereka dapatkan. Dan tentu saja ukuran ini cukup relatif.
itulah salah stau tolak ukur kemenangan menghadapi hidup.
Perjuangan hidup? selain itu, apa lagi yang diperjuangkan? menurut saya, yang harus di perjuangkan adalah impian. Sebab hidup itu sendiri selalu berawal dari impian. Tanpa impian, tanpa cita-cita, hidup menjadi tandus. Benar, seperti nun diluar sana yang memancar ajaib, Impian dan hidup juga ajaib. Dan apa yang lebih ajaib dari impian itu? dialah kehidupan. 'What Wonder of wonder is the living, is life!!'-Ajaib bin ajaib dalam kehidupan adalah hidup.....dan untuk terakhir katakanlah...No Tears For Life..!!

Jika memikirkan keadaan bangsa kita, Indonesia, selalu terbesit dibenak saya tentang Soto'. Yah, salah satu makanan yang bener-bener menggambarkan keadaan Bangsa ini. Jika pada 28 Oktober 1928 kita mengenal adanya sumpah pemuda, dimana kelompok dari berbagai daerah sepakat menginginkan 'Satu Bangsa' yakni Indonesia, kini saya ingin menggugat, kenapa tidak ada satu 'Soto' Indonesia? Keduanya mempunyai hubungan, yakni berasal dari sebuah 'perbedaan.' -sama dengan situasi forum sby`13 kita berbeda....tapi tetap satu- hehe..
Ingat..dulu Pemuda yang telah 'bersumpah' pada 28 Oktober 1928 berasal dari berbagai daerah yang notabene memiliki bahasa yang berbeda. Pada saat itu, di ikrarkan untuk menyatukan 'bahasa.'Satu Bahasa, Bahasa Indonesia'' Kalau tak salah kutipan kalimatnya seperti itu. Yang menandakan, bahwa ada satu hal yang mendasar disini, yakni berawal dari Perbedaan. Begitu juga Soto, jika dibedakan mungkin jumlahnya mencapai angka puluhan bahkan ratusan.
Perbedaan tidak hanya pada ciri khas masing-masing Soto, yang konon katanya menggambarkan keadaan daerah asal makanan itu sendiri. Jika anda sudi berkeliling ke berbagai daerah di Indonesia, maka akan banyak anda jumpai 'soto-soto' yang benar-benar 'Bhineka' terutama pada 'rasa-nya.'
Di Pulau Jawa kita mengenal Soto Bandung, Soto Kudus, Soto Pekalongan, Soto Madura, Soto Surabaya, SOto Malang, di Makasar ada Soto Makasar, di Medan ada Soto Medan, Ada Soto Padang,dll. Memang, agaknya cukup sulit untuk menyatukan soto-soto di Indonesia. Bagaimanapun juga, masing-masing punya karakter sendiri yang 'angkuh.' Mungkin inilah yang selalu mengingatkan saya tentang soto, jika berbicara soal persatuan Indonesia.
Seperti hasrat lidah kita untuk menerima soto-soto, agaknya cukup sulit untuk menerima sebuah persatuan. Seperti halnya, ketika orang dari Madura yang sudah terbiasa dengan 'rasa' soto Madura, hampir di pastikan 'tidak semua' dapat menerima rasa Soto Medan, begitu juga sebaliknya. ah...entahlah, perbedaan selalu menimbulkan jarak. Meski hal itu tidak diungkapkan secara tersurat. Apa mungkin harus kita buat Sumpah Soto Indonesia? agaknya cukup sulit menyamakan para 'Soto' tersebut.
Suatu ketika, ditengah lelahnya jadwal liputan kriminal di Batam, saya kembali terlintas masalah soto. Hal itu juga yang mengantarkan saya ke sebuah warung yang menyediakan hidangan khas Soto Surabaya. Yah...saya cukup akrab dengan bahasa yang dipakai penjual makanan itu, logatnya 'Jawa Suroboyan.' Seolah saya berada di Surabaya, meski saya sadar sekarang sedang di Batam. Entah dengan keadaan seperti itu, saya merasa pada saat mulai menimati 'Soto Surabaya' cukup pas dengan selera lidah, lain halnya ketika merasakan 'Soto Medan atau Soto Padang.' Ah entahlah, apa mungkin ini sugesti yang bisa saja muncul dari sebuah kondisi situasi yang ada. Apa mungkin penolakan itu, timbul karena angkuhnya lidah kita untuk menerima soto dari daerah lain? tidak juga, toh saya menganggap diri saya tidak primordial, karna mungkin lahir dan besar dikeluarga yang berasal dari dua bangsa dan budaya yang berbeda, meski masih satu RAS. Kecuali soal makanan, memang lidah cukup sulit diatur, begitu juga 'Soto.'
Tapi agaknya sampai sekarang cukup sulit untuk mencari pemersatu 'Soto-Soto itu' seperti sulitnya mencari titik temu kesatuan bangsa ini. Mungkin hal ini dipicu oleh sebuah keadaan, dimana masyarakat tidak sempat legi berfikir tentang hal itu. Sebab, didesak pemikiran-pemikiran lain yang mungkin lebih 'dianggap' penting. Atau bisa juga belum ada moment yang membuat 'persatuan' itu ada. Kini kata 'Persatuan' hanya menjadi sebuah simbol, yang dieluh-eluhkan dengan upacara resmi, yang diperingati tiap tahun. TOh dalam nama yang diagungkan itu masih dilihat cukup jelas bahwa ada kesamaran disana, ada makna yang lari dari maksud kata yang semestinya, ada bopeng yang sulit kita tutupi.
Hal itu tentu berbeda dengan keadaan, ketika ada moment tertentu, sehingga rasa 'Persatuan' menjadi cukup dibutuhkan. Ketika semangat kedaerahan tidak lagi diperlukan, tapi lebih mengedepankan kesamaan nasib. Seperti yang terjadi diluar negeri. Di Singapore contohnya, jika anda pernah datang ke Restoran Indonesia yang ada di Negeri itu, maka akan anda temui menu 'Soto Indonesia' bukan soto Medan, Surabaya, Makasar, Padang, dll. Hal ini dipicu karna sebuah keadaan. Agaknya ketika merasa satu bangsa, ditengah bangsa-bangsa lain, setidaknya ke-egois-an karakter primordialis kedaerahan harus ditanggalkan. Jika mungkin dipaksakan menjual 'Soto' Madura di Restoran itu, maka dijamin tidak akan ada yang mau datang, sebab daya tariknya hilang. Satu-satunya daya tarik ditempat itu hanya kata 'Indonesia.' Kata itu sekaligus mewakili identiti cukup banyak warga negara kita yang kebetulan berada disana.
Tapi apapun itu, Soto tetaplah Soto, dia hanya sebuah nama untuk menyebut salah satu jenis makanan. JIka boleh mengutip kalimatnya Shakespeare, 'Apalah arti sebuah nama?' toh Soto tetaplah soto. Yah, penulis kisa romantic 'Romeo and Juliete' itu memang senantiasa mengulang pertanyaan itu. 'Apalah arti sebuah nama?' Soto lebih mirip Bhineka Tunggal IKa, merski berbeda-beda tapi tetap satu. Yah..semua tetap satu,'Soto.'
Meski pada akhirnya 'Soto' hanya sebatas nama. Yang jelas, kita lebih butuh sesuatu yang nyata. Tidak hanya sebatas nama. TIdak kosong, tapi isinya. Seperti halnya Soto, toh banyak juga yang takpeduli dengan nama itu lagi, seperti mereka memandang 'Indonesia.' Sebab, lebih menarik jika berbicara soal apa yang nyata, bukan hanya sekedar kata 'Indonesia.' Banyak yang 'tak' perlu Indonesia, bagi mereka, yang lebih perlu adalah bagaimana saya bisa eksis di negeri 'Indonesia' itu. Persaingan hidup, Modernitas, Ruwetnya Kehidupan kerja, seakan memalingkan kepala kita dari arti kata 'Indonesia', sehingga kita berani bertanya 'Apalah Arti Sebuah nama? Kenapa waktu Sumpah Pemuda tak diteriakkan 'Satu Soto....Soto Indonesia' !! biar nama tidak hanya nama? Tapi sekaligus mewakili identitas yang nyata? entahlah, jawabku dalam hati.