Gelap
oleh: David Rudra
Tiap kegelapan mengandung ketegangan. Di sudut Batam yang kusut, ketika matahari meninggalkan kerumunan tangis dan tawa yang ada. Kegelapan selalu muncul sebagai sahabat. Ketika Kegelapan itu muncul, sebagian manusia berubah wajah. Mereka menanggalkan topeng religiusnya, mereka juga melepaskan semua jubah sosialnya. Dengan wujud asli, entah sebagai 'setan benalu mana?' saya pun tak begitu paham.
Sebagian menjadi sosok pelacur, penjual narkoba, maling, rampok, yang mencoba mengadu keberuntungan diantara kerasnya sejarah yang terus bergulir. Ketika senja sudah datang, pelacur itu memulai aktivitasnya dengan bersolek di depan cermin. Dengan sedikit rintihan mungkin, karna ia sempat membayangkan betapa tidak bernilainya hidup yang harus melayani 'Syahwat' para hidung belang. Sementara, di sudut lain, penjual narkoba sudah mulai bergegas memadati pojok-pojok tempat hiburan. Berharap ada kelebihan rejeki dari rintihan para pecandu. Semua berawal dari kegelapan.
Mereka lupa, bahwa kegelapan itu sendiri adalah sebuah pertanda, ketika pintu sudah didepan mata, menjadi sebuah mukjizat bagi mereka yang bersujud, bagi mereka yang menerima kegelapan menjadi hanya sekedar situasi yang berawal dari ketiadaan cahaya, yang membawanya mengetuk pintu dah mengharapkan keridoan dariNYA. Di Gurun pasir yang terjal itu, tanpa penerangan sedikitpun, pernah menjadi saksi perjalanan Nuh saat mencoba naik ke puncak Tursina.
Seperti sejarah, kegelapan adalah saksi dari tonggak sejarah manusia. Kegelapan selalu menjadi bagian dari perjalanan hidup manusia. Perjalanan yang kadang kala letih didera cambukan 'nasib' yang terus bergerak layaknya ombak yang menghempas bebatuan cadas. Hanya saja tak ada pilihan untuk menghentikan perjalanan itu. Roda yang berputar sangat deras, dan manusia takkan mampu mengentikan hal itu, seperti Musa yang tak pernah melihat wajah Tuhan di Pucuk Tursina. Ia terus berusaha keras.
Tapi satu hal yang mulai saya pahami saat ini, sebagian besar manusia modern identik dengan manusia yang takut akan kegelapan? manusia yang paranoid dengan ketiadaan sumber penerangan. Ketika malam menjelang, sekelebat itu juga lampu mulai dijadikan gantungan pengganti cahaya matahari. Sumber cahaya sepertinya menjadi barang yang sangat diperlukan manusia modern. Mereka juga akan merasa sangat hampa tanpa cahaya. Merasa sumpek saat senja tiba. Sampai kapan manusia harus tergantung dengan 'terang'? Padahal gelap adalah sumber inspirasi. Gelap juga bisa diartikan sebagai 'situasi yang takzim' ketengan yang tak ternilai. 'Gelap' lah yang mendekatkan manusia dengan Tuhannya. Ketika menerima sabda pertama, Muhammad duduk diantara kegelapan. Dia menyendiri di sebuah Gua yang jauh dari pusat keramaian Mekkah. Disana, ketika ia benar-benar takzim menerima 'gelap' seketika sabda tuhan terdengar, perintah yang saat ini dijalankan manusia. Gelap hanya sebuah tanda, atau mungkin juga 'simbol' dimana manusia kadang-kadang mengartikannya dengan kekuatan bahasanya sendiri. Tapi saya yakin, tuhan memiliki pandangan yang berbeda. Tuhan menciptakan gelap diantara terang, dan yang jaraknya hampir separuh perputaran bumi, tentu memiliki makna tersendiri. ''Itu merupakan sebuah tanda atau mungkin juga simbol,'' Tulis Julia Kristieva pada 1966. Dan bagi Saya, gelap adalah sebuah kondisi yang menciptakan cukup banyak kontradiksi, dari urusan Syahwat hingga Sholawat.
Saat kegelapan datang, ketika sebagian besar mata sudah harus diistirahatkan, ketika itu sebagian manusia masih harus berjibaku dengan perjuangan terhadap nasib.
Cemburukah Tuhan?
Oleh: David Rudra
Seperti sajak Amir Hamzah, yang dituliskan sebagai persembahan kepada tuhan. ''Engkau Cemburu'' ujarnya seakan melawan sabda tuhan yang menuliskan tentang aturan dan garis hidup manusia. Membatasi setiap gerak-gerik manusia. Tapi mari kita resapi, mudah terhinakah Ia? Mudah Irikah Ia? yang sudah jelas hanya satu, penganutnya selalu berebut kebenaran.
Saya teringat seorang kawan, dia ceritakan kepada saya, bahwa penyerangan Afganistan, Irak, dan beberapa negara muslim timur tengah adalah cara kaum kristen Amerika untuk melakukan kristenisasi. Ditempat lain, seorang kawan yang kebetulan penganut Kristen berpendapat, desakan kelompok garis keras untuk memakai hukum islam di Indonesia merupakan salah satu ciri Islamisasi. Semementara itu, disana, di Bali, mungkin ada kawan-kawan semacam itu. Ketika hidup dalam golongan minoritas mereka akan merasa menjadi bagian dari derasnya perebutan pengaruh atas sebuah kepercayaan.
Juga masih banyak kisah lain, yang memperlihatkan betapa kerasnya benturan pengaruh antar penganut agama. Disana, dipulau dewata itu, juga pernah dikisahkan tentang Nicomendus.
Dalam bukunya yang terkenal 'The Island of Bali' Miguel Cavarrubias, mengkisahkan hal itu. Buku terbitan tahun 1937 yang di tulis langsung oleh Miguel Cavarubias, berkisah, seorang Necomandus yang mengalami pahitnya tekanan yang disebabkan gesekan antar agama dalam menanamkan pengaruhnya.
Awalnya Necomandus adalah seorang penganut Hindu, akhirnya masuk Kristen setelah bekerja sebagai pelayan seorang misionaris. Ia di Baptis dan menjadi seorang kristen, namun pilihannya itu akhirnya pupus bersama tekanan yang ada saat itu. Necomandus dikucilkan masyarakat setempat, dan dianggap sudah mati. Akhirnya ia tertekan, dan mengalami guncangan yang cuku dasyat, hingga suatau ketika tergerak untuk membunuh majikannya sendiri. Ya, Necomandus menghabisi sang majikan yang telah membaptisnya, dan memilih menyerahkan tubuhnya untuk dibunuh secara adat.
Sebenarnya ada berapa banyak tuhan sih diatas sana? Sedalam apa kecemburuannya terhadap manusia? sehingga saling berebut dukungan, layaknya calon Gurbernur dalam Pilkada. Sedalam apa Ia membutuhkan 'sujudnya' manusia? Tapi anehnya perebutan ini hanyadilakukan 'tim suksesnya,' yakni para pemuka agama.
Mungkin kebenaran tentang sebuah keyakinan sudah mirip dengan benda yang bisa diakumulasi. Sehingga para pemuka agama, para penganut garis keras, saling berebut pengaruh untuk mencapai kejayaan kelompoknya. Tapi sadar atau tidak, kebenaran dalam keyakinan umat manusia di dunia seperti jalan dalam permainan monopoli. Cukup banyak tikungan, toh semua mempunyai pilihan tersendiri, dan satu dengan yang lain hanya di pertemukan pada satu titik, yakni kebaikan. Sedangkan ratusan titik yang lain, saling bertabrakan.
Seperti sabda sebagian besar tuhan umat manusia, bahwa agama diturunkan untuk membawa kebaikan. Menyampaikan kebenaran, bahkan ada yang menyebutkan 'Rahmatan Lil Alamin.' Tapi toh kenyataan sejarah tidak bisa kita pungkiri, bahwa agama berkembang seiring dengan pertumpahan darah. Perkembangan agama, ditopang ribuan kepala yang terpenggal karna perang Salib, berdiri dengan tembok merah yang dibasahi darah dari pasukan persia yang menduduki Romawi. Seperti itukah tuhan membawa kebenaran? Kedamaian yang diciptakan tak ayal hanya sekedar retorika, toh dalam catatan sejarah acapkali agama berdiri diatas segala penderitaan.
Mungkin hal itu juga yang membuat Fredrik Nietze berkesimpulan, tuhan telah mati, Amir Hamzah berkata tuhan cemburu, atau bahkan Karl Marx yang beranggapan agama itu mirip dengan candu, memabukkan, meninabobokkan pemikiran manusia. Semua pernyataan itu adalah gugatan terhadap ketuhanan manusia, yang selama ini berdiri ditopang penderitaan.
Dalam sejarah yang masih terus akan bergulir, kedepan, bisakah agama benar-benar membawa mukjizat-NYa. Kedamaian yang dijanjikan juga akan terasa hampa jika harus mengorbankan kedamaian golongan dan kepercayaan lainnya. Bisakah kedamaian itu terwujud, tanpa ada pertumpahan darah? tanpa ada Kristen satu, Islam satu atau Hindu satu bahkan Yahudi satu? Ya..ketika mayoritas dan minoritas tak lagi saling berebut pengaruhnya. Ketika itu tuhan tak cemburu dan tak bisa dimonopoli.
Agama ilegal
Karikatur itu mencemooh Nabi. Ilmu itu tak percaya bahwa alam semesta diciptakan seperti dalam Alkitab. Puisi Amir Hamzah mengatakan tuhan itu 'ganas' dan 'cemburu' serta sajak Rendra menggambarkan Yesus merangkul seorang pelacur yang mengidap raja singa. Beberapa abad sebelumnya: Nietze berpendapat tuhan telah mati, atau bahkan Karl Marx berkesimpulan agama itu mirip 'candu' yang memabukkan....
Bisakah agama tak hidup dalam persepsi seperti itu? persepsi yang dibuat manusia karna bermacam pengalaman yang menjadikan semacam impuls buat berpendapat miring? Tapi itulah kenyataan, yang dibuat dan disimpulkan oleh manusia yang mengenal agama dan menyimpulkan segala sesuatu yang mungkin juga 'keliru' sebab dipengaruhi beberapa kondisi keadaan yang ada.
Agama sering kali menghentikan pengembaraan digurun dan gua, dan membuat dirinya mampu membuka cadar di SInai yang menutupi sosok tuhan dimata Musa. Yang membuat manusia tak bisa berpaling dan mencoba mengetuk pintu di negeri 'asing' seperti dalam puisi Khairil Anwar. Meski dalam kodrat kita 'tak bisa berpaling, namun mata kita dibutakan oleh silaunya dunia, juga oleh bahasa yang kadang kala tak dapat menterjemahkan sabda tuhan yang turun di Gua HiraNYA. Begitu juga ketika manusia sudah mulai mencoba menyaingi kekuatan Tuhan, melakukan justifikasi terhadap sesama pemeluk keyakinan jika terjadi sesuatu hal, hanya dengan berbekal pemahaman akan hukum yang dibuatnya sendiri.
Sebab itulah, agaknya dewasa ini, cukup banyak kelompok yang merasa tertekan. Cap sebagai yang 'sesat' tidak diberikan tuhan, tapi oleh manusia sendiri. Semua hanya berpaku pada aturan yang dibuat manusia. Sungguh tragis...apakah tuhan benar-benar mati? hingga perannya digantikan manusia? yang jelas, pada saat dipucuk tursina Musa tak sekalipun berhasil melihat sosok wajah tuhan yang dirindukannya itu.
Sebuah keyakinan yang salah, ketika agama dan urusan negara atau bahkan aturan yang ada didalamnya, mulai bercampur aduk. Ketika manusia sudah melangkahi kodratnya sebagai mahluk ciptaan, ketika itu agama akan menjadi rancuh. Kenyataan ini akan semakin sempit, ketika media-media sudah memberikan statemen dan sebutan yang juga salah. Sehingga meracuni semua pemikiran umat dengan adopsi idiom yang juga salah.
Baru-baru ini, sebuah berita menyebutkan '600 TKI yang melakukan Haji Ilegal ditangkap pemerintah Arab Saudi'. Sepertinya kita harus kembali berkaca,sebelum melakukan justifikasi terhadap persoalan ini. Haji Ilegal, Agama Ilegal atau mungkin juga Sholat Ilegal, bahkan jika ada 'Kebaktian Ilegal'. Haji adalah sebuah ritual yang menurut Islam sebagai pelengkap syarat menjadi Islam yang terakhir. Namun hal ini dianggap 'ilegal' ketika tidak mengikuti aturan pemerintah. Pemakaian bahasa itu sepertinya harus diubah. Yang ilegal adalah TKI nya bukan ritual agamanya,sehingga dengan demikian tidak ada satu manusiapun yang boleh menghalangi jalannya ibadah mereka.
Di daerah Jawa Barat, juga pernah diberitakan, tentang penyerangan warga terhadap jemaat kristiani yang beribadah di Gedung Serbaguna milik suatau Yayasan. Jemaat itu dianggap melakukan 'Ibadat yang Ilegal' dan tidak memenuhi aturan yang ada. Hal ini lantaran ijin gedung yang berbeda peruntukan, sehingga membuat 'Ibadahnya' pun dianggap ilegal.
Cukup aneh bukan, ketika manusia menyebut sebuah ritual agama yang tidak mengikuti aturan yang dibuat pemerintah maka itu akan dikatakan sebagai sesuatu yang ilegal. Mungkin benar kata Sartre 'Manusia dihukum untuk merdeka'. Ya, 'kemerdekaan' berfikir itu merupakan suatu hukuman yang tak nyata, namun cukup membuat manusia tersesat dalam perjalanan ke Gua Hira atau gurun yang dijanjikanNYA. Karna 'cadar' kebebasan kadang kala menutup pandang manusia tentang apa arti tuhan dan agama yang sesungguhnya, seperti Musa yang gagal melihat wajah tuhan di pucuk Tursina.
Sepertinya kita harus membatasi, antara urusan agama dan pemerintah. Antara tuhan dan manusia, seperti sabda 'Hamblum Minnallah dan Hamblum minannas' yang kadang terlihat cukup tipis batasannya. Mungkinkah tuhan membedakan manusia yang legal dan ilegal? ibadah yang legal dan ilegal? Apakah tuhan juga melihat Haji manusia itu dari paspornya yang sah? atau Kebaktian hanya dinilai dari ijin gedungnya yang legal atau tidak? ah, entahlah, itulah anggapan manusia saat ini. Rancuh, campur aduk, tersesat dalam adab kebebasan berfikir.
Mungkin manusia belum melihat Gurun yang janjikan, sehingga menghadap lagit dengan kemampuan terbatas dan mengharapkan melihat cadar lagit ketujuh dimana mereka bisa bertemu dengan tuhan. Atau mungkin manusia hanya akan terombang-ambing dalam kebimbangan, dalam keyakinan yang salah, seperti buih yang terus terseret ombak dilautNYA dan tersesat didalamnya. Dan seperti itulah, bahasa manusia yang tak pernah bisa menterjemahkan semua sabdanya, karnanya mungkin juga benar 'Manusia dihukum untuk merdeka'.
Sesat

Pada Abad ke 15 lalu, api yang ganas tak mampu menghentikan keyakinan manusia. Ketika yang dianggap 'sesat' justru mendapat mukjizat-Nya.
Siang itu, ditengah terik mentari, penduduk Kerajaan Demak berbondong-bondong menyesaki pusat Ibu Kota. Kehadiran mereka tidak lain untuk menyaksikan eksekusi seorang yang dianggap menyebarkan ajaran yang 'Ganjil'. Siapakah manusia yang dianggap 'sesat' itu? Dialah Pangeran Panggung, yang semasa hidupnya meyakini ajaran Islam agak menyimpang dengan apa yang disebarkan Sembilan Wali pada jamannya. Kisah pertentangan mistikus dan penguasa, penegak hukum dan alim ulama yang tak pernah habisnya.
Eksekusi itu disulut pernyataan Pangeran Panggung tentang ajaran sembilan wali. Bahwa ajaran Islam yang di sebarkan pada wali hanyalah sebagian kecil dan hanya kulitnya saja.Sedangkan yang intisari yang merupakan bagian terpenting tidak pernah diajarkan kepada penduduk Jawa. Tidak hanya itu, bahkan pada suatu kesempatan, pertentangan antara Pangeran Panggung dan Sembilan Wali semakin meruncing dalam segala hal terkait Aqidah dan Tauhid.
Kepada murid-muridnya, Pangeran Panggung mengajarkan, bahwa Sholat, Zakat dan Puasa itu tidak penting. Baginya, sholat secara rutin itu justru menjadi tirai (aling-aling -dalam bahasa jawa) yang membatasi manusia dari pengetahuan tentang nilai yang utama, juga soal puasa dan Zakat, akhirnya hanya menjadi berhala, menggantikan sikap sujud kepada yang Maha Agung.
Jika kita lihat kisahnya, Pangeran Panggung memang cukup berani menetang zaman. Dia berani mengatakan keyakinannya di tengah kondisi yang cukup sulit. Di tengah-tengah, dia hanya golongan minoritas diantara seluruh umat. Hal ini pula yang membuat nasibnya tragis. Bagaimana tidak, pengaruh ajaran Sembilan Wali memang cukup mendominasi pada saat itu.
Kemudian, Sunan Bonang yang merasa ajaran Pangeran Panggung cukup 'ganjil' mencoba memanfaatkan kekuasaan Sultan Trenggono,Raja Demak ke III yang menganut Islam untuk melakukan pemberangusan. Padahal jika dilihat lebih lanjut, Trenggono sang Raja adalah adik kandung dari Pangeran Panggung manusia yang dianggap mengajarkan hal yang 'ganjil' dan 'sesat' itu.
Berdasarkan catatan sejarah, golongan Wali Songo dalam penyebaran agama dan menjaga kemaslahatan umat, selalu berafiliasi dengan penguasa. Hal serupa yang 'mungkin' masih dilakukan golongan-golongan alim ulama saat ini.
Di hadapan sang Raja, Sunan Bonang mengatakan, ajaran yang di sebarkan Pangeran panggung cukup 'ganjil' dan sangat bertentangan dengan ajaran islam pada umumnya. Pangeran Panggung menganggap sholat tidak penting, dan puasa serta zakat hanya akan jadi berhala. Kebiasaan Pangeran Temanggung yang kerap membawa dua ekor anjingnya ketika ke mesjid pun dianggap cukup bertentangan dengan ajaran ISlam. Seperti di ketahui, Anjing adalah binatang yang najis. Tapi sang pangeran tidak memandang hal itu, malah dia cukup akrab dengan mahluk 'najis' itu ketika di masjid. Kebiasaan ini dianggap telah menodai martabat Masjid sebagai rumah tuhan.
Alasan lain yang mungkin hanya 'retorika' saja, Pangeran Panggung dianggap membahayakan tatanan sosial Demak pada saat itu yang didominasi pemeluk Islam yang diajarkan sembilan wali.
Sultan Trenggono bertanya, '' lalu hukuman apa yang tepat untuknya?''
''Dia harus dibakar hidup-hidup,'' sahut Sunan Bonang. Maka eksekusi pun mulai di rencanakan. Pangeran Panggung diminta hadir di pusat Kerajaan Demak. Ia pun bersedia hadir untuk menerima hukuman, dengan ditemani dua ekor anjingnya bernama Iman dan Tauqid. Keanehan pun muncul, ketika api unggun mulai dinyalakan, Pangeran Panggung menyuruh anjingnya itu untuk masuk kedalam api guna memungut nasi tumpeng. Mereka meloncat kedalam, dan ditengah api yang berkobar, semua yang hadir saat itu takjub, bagaimana tidak? bulu binatang yang dianggap 'najis' itu tidak sedikitpun terbakar. Cukup 'Ganjil' memang. Api yang ganas ternyata tidak mampu membakar mahluk 'najis' milik Pangeran Panggung.
Melihat hal itu, baginda raja Demak panik, namun ia tetap meminta kakak kandungnya itu untuk tidak melawan. Dan menyerah untuk di eksekusi. Akhirnya Panggung menuruti sang adik, dengan syarat, disediakan pena dan secarik kertas. Kemudian, pangeran Panggung pun di bakar bersama iman dan tauqid. Ditengah api yang berkobar, sang Pangeran sempat menggubah kitab suluk berbentuk puisi. Setalah kita selesai digubah, akhirnya ia pun roboh, tewas bersama dengan Iman dan Tauhid.
Kisah Pangeran panggung ini hanya sedkit dari kisah orang-orang yang bereani menentang zaman. Di tanah jawa, pada saat kerajaan Demak berkuasa, setidaknya ada dua tokoh besar lain yang di eksekusi ketika mencoba melawan kebenaran mayoritas dan menentang kekuasaan. Diantaranya, kisah tentang Syeh Siti Jenar dan Ki Among Raga. Kisah-kisah serat kandha ini pernah di tulis D.A Rinkes dalam bukunya 'Nine Saints Of Java'.
Memang begitulah nasib ketika menentang sebuah zaman, menentang kebenaran 'Klaim' mayoritas, pasti mengalami pemberangusan. Di cap 'sesat' mungkin masih cukup ringan dari pada menemui ajal dengan di bakar dan disiksa.
Kisah lain tentang manusia-manusia yang dianggar ganjil juga pernah muncul di Jazirah Irak. Seperti yang tertulis dalam kitab AL Tawasin, di negeri Bagdad pada tahun 922M pernah hidup seorang yang bernama Al Halaz.
Dalam hidupnya Al Halaz memiliki keyakinan yang cukup menyimpang dari apa yang diyakini orang Bagdad pada saat itu. Hingga suatu ketika, di depan raja dan alim ulama Bagdad, Al Hallaz pernah berkata, ''Jika kamu tidak bisa mengenali tuhan, maka lihatlah tanda-tandanya. Dan diatara tanda-tanda itu adalah aku,'' Pernyataan ini lebih sering di kutip dengan kalimat 'Anna Al Haq' atau saya yg satu. Ada juga yang mengartikan, menyatukan diri dengan tuhan.
Sontak saja, alim ulama dan penguasa Bagdad marah, sebab, Al Hallaz dianggap telah mengaku sebagai tuhan. Dia pun diancam untuk mencabut kata-katanya itu, jika tidak akan dihukum.
Namun dengan keteguhan hatinya, Al Hallaz justru berkata, ''Meski saya di bunuh, tubuh saya di salib, badan saya di potong-potong, tak kan ku cabut kata-kata itu,'' Jawaban yang cukup tegas ini pun mengantarkan Al Hallaz kepada eksekusi dan kebringasan penguasa. Ia menemui ajal dengan masih memegang teguh keyakinanya. Lagi-lagi, keganjilan, sesuatu yang beda, orang-orang yang menentang zaman, menemui ajal. Tapi apalah arti sebuah kebenaran jika resiko untuk para pencarinya selalu mendekati ajal.
Dengan mengutip sebuah syair Melayu yang pernah di cuplik Rinkes penulis 'Nine Saint of Java.' Syair ini menjelaskan tentang tingkatan manusia manurut Islam dengan meng-analogikan ke bentuk buah kelapa.
...........
Kulit-nya itu ibarat Shari'at
Tempurung-nya itu ibarat Tarikat
Isi-nya itu ibarat Hakikat
MInyak-nya itu ibarat Makrifat
Cukup menarik jika kita pahami syair itu, tingkatan tertinggi, yakni 'Makrifat' dilambangkan seperti minyak dalam buah kelapa. Yah..minyak, suatu zat yang mugnkin ada di setiap bagian kelapa, tapi tak kasat mata. Tak bisa terlihat, dia merasuk didalam sela-sela dagingnya, ada disetiap titik pori-pori tempurungnya, dia bisa menyesuaikan diri. Namun tetap pada kenyataanya dia akan terpisah, dan tidak mudah bercampur dengan zat lain. Dia tidak keras serpeti tempurungnya, dia tidak keras seperti gelombang pemberangusan.
Jika kita melihat sifat dari tingkatan ini, lantas apa arti pemberangusan, pembantaian, golongan yang dianggap 'ganjil'. Lalu apa arti cap 'sesat' yang di berikan untuk kelompok tertentu, toh pada akhirnya kebenaran itu sangat sulit di bedakan, seperti minyak yang sulit untuk dilihat ketika masih menyatu dengan daging, kulit dan tempurungnya.